MataNegeri | MataDaerah | MataRiau | MataPolitik | MataHukum | MataBisnis | MataDunia | MataSport | MataSeleb | MataIptek | MataPesona
 
Selamat Hari Pers, Tetaplah Setia dengan Profesi Wartawan
Minggu, 09-02-2020 - 10:37:08 WIB

HARI ini, Minggu 9 Februari 2020, merupakan hari bersejarah bagi kami Insan Pers. Setiap tahun, setiap tanggal dan bulan itu, kami merayakannya sebagai Hari Pers Nasional (HPN), hari dimana seluruh wartawan, terutama yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), larut dalam kegembiraan dan kebanggaan.

Saya pribadi termasuk yang selalu bangga, haru dan sangat bersyukur karena hingga saat ini masih dapat bertahan, diberi kekuatan dan kesetiaan dengan profesi yang dulu pernah disebut sebagai "kuli tinta" itu. Dan, Alhamdulillah profesi ini bisa saya jalani lumayan lama, 35 tahun.

Tidak banyak kawan-kawan seangkatan saya ketika sama-sama mengawali profesi ini lewat sebuah penataran jurnalistik pemuda tahun 1985 yang bertahan hingga tahun ke-35 ini. Dari total 76 orang yang ditempa saat itu dan digojlok fisiknya di sebuah pusat latihan militer di Padang, mungkin kami yang masih eksis di jalur kehidupan yang satu ini hanya tinggal hitungan jari saja.

Selebihnya, karena berbagai alasan, mulai dari tidak kerasan, tidak menjanjikan dari sisi finansial, hingga persoalan fisik dan mental tidak kuat jadi wartawan yang harus begadang tiap malam, mereka "banting stir". Ada yang menjadi abdi negara, pengusaha hingga pengacara.

Tapi sudahlah, tak ada yang perlu dipersoalkan dengan pilihan langkah kaki kawan-kawan saya di jalur profesi dan pekerjaan lain. Sebab, dalam hidup ini kita memang memiliki banyak pilihan pekerjaan dan pengabdian. Terpulang kepada kita, mau memilih yang mana.

Bagi saya pribadi, menjadi wartawan adalah sebuah pilihan hati. Karena itu, apapun situasi dan kondisinya, tidak sedikitpun terbersit di hati untuk meninggalkannya sampai tangan dan jari-jari ini tak lagi bisa bermain dan menari-nari di atas mesin tik (dulu) hingga komputer, laptop ataupun gejet di era moderen nan canggih ini.

Memang banyak orang bilang jika ingin kaya materi jangan jadi wartawan. Tapi jadilah yang lain. Mungkin jadi pengusaha atau pejabat negara. Tapi saya percaya dan yakin, apapun pekerjaan yang kita jalani asalkan dengan niat dan tujuannya untuk kebaikan, hasilnya Insha Allah, juga akan baik.

Saya dan begitu juga dengan kawan-kawan satu profesi sangat paham, masih banyak orang-orang hingga saat ini yang tidak menyukai dan alergi terhadap wartawan. Itu hak pribadi seseorang. Tapi, jangan dipungkiri bahwa sikap kritis dan sosial kontrol yang dilakukan wartawan, telah memberikan kontribusi besar tidak saja kepada karir dan masa depan individu-individu, bahkan juga terhadap bangsa dan negara ini.

Sebab, wartawan itu memiliki pemikiran yang luas, gagasan, kreativitas serta pengalaman. Bila mereka tuangkan dalam bentuk tulisan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dan, kemampuan menulis adalah anugerah terbesar yang diberikan sang pencipta kepada seorang jurnalis atau wartawan.

Karena itu, seorang wartawan selalu dituntut jangan pernah berhenti menulis dan membaca. Hanya dengan dua hal itu pula, wartawan akan tetap sehat jiwa dan pemikirannya serta jauh dari kepikunan. "Dengan selalu menulis, aliran darah ke otak jadi lancar. Itu artinya, seorang wartawan sudah menyelamatkannya dari penunaan dini dan kepikunan," ujar seorang wartawan senior suatu ketika kepada saya.

Lalu bagaimana dengan bisnis media massa atau industri pers sebagai penopang kehidupan para wartawan yang di era Milenial ini semakin tergilas media sosial? Tidakkah kemerosotan industri pers akan membuat pekerjaan wartawan ikut terlindas?

Saya pikir tidak. Profesi wartawan yang sebenar-benarnya wartawan tidak akan "lekang oleh panas dan takkan lapuk karena hujan". Seorang wartawan memiliki naluri dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan zaman maupun musim yang datang silih berganti.

Ingat saja apa yang kini terjadi. Ketika media mainstream semakin kepayahan dalam memproduksi koran cetakan, datang model baru surat kabar digital atau yang dikenal dengan media online.

Sebagai inovasi atau turunan terbaru dari suratkabar, media online diyakini akan mampu bertahan hingga puluhan tahun ke depan sampai ditemukan jenis atau model media massa terbaru lainnya.

Jadi, buat kawan-kawan yang konsisten di jalur profesi kewartawanan tak usah resah dan gelisah. Asalkan kita tetap komit dengan tugas dan fungsi profesi serta intelektual yang dimiliki, jalan buat bermedia ataupun menjemput rezki tetap ada dan terbuka lebar.

Selamat Hari Pers, Selamat konsisten di jalur kewartawanan.

* Tun Akhyar, Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab MataPers.com



 
 
Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
© 2019 MataPers.com | Akurat dan Bijak Berkabar